Peringati Hari Anak Nasional, Gebyar Paud ke-40 , Ini Harapan Kadisdik Firdaus


Muaro Jambi
- Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi cukup perhatian terhadap anak-anak dengan menangani masalah anak tidak sekolah maupun anak berpotensi tak bersekolah agar mereka wajib menerima pendidikan selama 12 tahun dari jenjang SD sampai SLTA


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Muaro Jambi Firdaus dirinya berharap agar anak anak sekolah dari jenjang SD hingga SLTA gratis 


"Kita berharap semua anak-anak bisa sekolah, karena pendidikan di sekolah-sekolah negeri mulai dari jenjang SD hingga SLTA sudah gratis," kata Kepala Dinas Disdikbud Firdaus 


Ia juga menyebut saat ini Pemerintah Pusat juga telah menggratiskan pendidikan melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sebab, jika mereka tidak bersekolah, tentu ke depannya bisa menjadikan beban negara.


Dengan demikian, Pemerintah Muaro Jambi sudah mengembangkan inovasi "Gera Sekolah" atau gerakan elaborasi untuk meraih agar anak sekolah. Inovasi Gera Sekolah itu dirintis tahun 2024 bertujuan untuk menyelamatkan anak-anak agar dapat melanjutkan pada pendidikan formal maupun nonformal. Wajib belajar 12 tahun masih menjadi tantangan pemerintah.


Bahkan, pada kegiatan Program Gebyar Stunting, Inflasi, dan Kemiskinan Ekstrem (Klasik), ada puluhan anak putus sekolah yang bisa kembali melanjutkan pendidikan di jenjang SD/SMP dan mendapatkan bantuan Miskin Ekstrem sebesar Rp700.000 per orang


Bantuan dana tersebut hanya diterima satu kali saja, namun untuk berkelanjutan, itu sampai lulus mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A dan B yang dilaksanakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) di masing-masing wilayah secara gratis.


Pemerintah daerah menyelamatkan anak-anak itu agar bisa belajar di PKBM yang bergerak di bidang pendidikan nonformal dan masih berada di bawah pengawasan dan bimbingan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Muaro Jambi.


"Semua anak yang melanjutkan pendidikan di PKBM diberikan bantuan Rp700.000 untuk anak miskin ekstrem hanya satu kali terima, sebab anak-anak itu dari keluarga tidak mampu ekonomi," kata Kadis Firdaus